Penjualan Simping Laris Di Bulan Ramdhan

BISNIS PURWAKARTA – Di Purwakarta, produsen sekaligus penjual simping sangat mudah dijumpai.Bila ingin makan simping cari saja di di daerah Kaum, Jalan Baing Marzuki, Kelurahan Cipaisan, Kabupaten Kecamatan/Kabupaten Purwakarta.

Simping merupakan makanan khas Kabupaten Purwakarta berbentuk lembaran pipih bundar tipis dengan rasa yang gurih. Salah satu pengusahanya adalah Ibu Yoyok Edy Al Ansori (70), dalam Bulan Ramadan seperti sekarang ini, wanita yang melanjutkan usaha yang dirintis almarhum suaminya tersebut mengaku mengalami kenaikan omzet sebesar 100%.

“Saat sekarang ini omzet naik 100% dibanding hari biasanya,” katanya pada Selasa (22/5/2018).

Dalam sehari pada bulan Ramadan, Yoyok mengaku mampu menjual 200 bungkus simping ukuran sedang seharga Rp 8.500.”Kalau sehari sekitar 200 bungkus, untuk dus yang biasa dibeli sebagai oleh-oleh bisa sampai 50 dus. Sementara itu simping yang dijual di kaleng blek, bisa laku delapan blek,” ucapnya.

Akibat lonjakan omzet dan permintaan simping, ia mengaku harus mempekerjakan lima orang karyawan yang bertugas membuat adonan dan menyetak simping.

“Karena permintaan naik, ada lima orang karyawan dari yang biasanya hanya dua orang,” ucapnya.

Yoyok menambahkan dari 12 aneka rasa simping yang dijualnya, paling laris adalah simping dengan rasa asin seperti simping rasa keju, bawang dan kencur. Biasanya simping tersebut tidak hanya dipasarkan di Purwakarta saja tapi sampai ke Bandung, Bogor, Cianjur dan sejumlah daerah di Jawa Barat lainya.

Di sisi lain, meski ada kenaikan omzet 100%, Yoyok mengaku toko simping miliknya tak seramai dahulu ketika jalan tol penghubung Jakarta-Purwakarta-Bandung belum dibangun.

“Ibu sudah berjualan sejak 1964, sebelum ada jalan tol. Waktu belum ada tol, banyak orang dari luar Purwakarta sengaja datang langsung ke toko saya. Sekarang dengan adanya tol, kebanyakan membeli oleh-oleh simping di rest area,” ujarnya.

Namun, Yoyok optimis simping buatanya akan terus dibeli masyarakat.

“Ya harapannya simping ibu, selalu bisa dinikmati konsumen. Selalu dibeli orang,” jelasnya. (Gin)

Bagikan: