Harga Cengkih Tidak Stabil

BISNIS PURWAKARTA – Harga jual cengkih di pasaran flukuasi (turun naik). Menyikapi kondisi itu, H. Apud Budiana (45), pangepul (Bandar) cengkih, yang sudah belasan tahun berprofesi sebagai bandar cengkih di Kampung Krajan RT 02/RW 06, Desa Sindangpanon Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, saat ditanya faktor penyebab turun naiknya harga jual cengkih di tingkat petani, hanya menggelengkan kepala sambil terheran.

“Saya pun tidak tahu, faktor apa yang menyebabkan harga cengkih tak stabil,” ujarnya, Jumat (13/7/2018).

Apud merupakan bandar besar tingkat desa, yang selalu membeli produksi cengkih para petani Desa Sindangpanon. Apud adalah generasi kedua yang meneruskan bisnis keluarganya sejak puluhan tahun silam.

Disebutkan Apud, dirinya mematok harga beli cengkih di tingkat petani lokal, disesuaikan dengan selisih harga pembelian dari bandar besarnya di Garut.

“Cengkih yang kita keringkan ini, akan dijual ke Garut,” ujar Apud.

Ia juga pernah tanya ke bandar besar relasinya di Kabupaten Garut, soal fluktuasi harga cengkih, yang turun naik. Namun, bandar besar di Garut tak menerangkan secara rinci soal faktor penyebab harga cengkih yang fluktuatif.

“Saat ini harga jual cengkih memang sedang merosot,” kata dia.

Lanjut dia, untuk cengkih basah yang dibeli dari petani seharga Rp.26.500/kg,sementara sebelumnya seharga Rp.32.000/kg.Sementara cengkih kering dijual seharga Rp.87.000/kg,dari sebelumnya Rp.92.000/kg.

“Kalau kita bilang, harga turun setiap masuki panen raya, kita juga takut salah, sebab adakalanya pengalaman tahun sebelumnya, saat panen raya, harga justru malah tinggi,” ucapnya.

Sejauh ini, lanjut dia, tak ada harga standar baku, soal harga cengkih di pasaran, semuanya berjalan bebas sesuai harga pasar.

“Tak ada intervensi dari pihak pemerintah, soal standar harga jual cengkih,” ungkapnya.

Apud menambahkan, produksi cengkih di Desa Sindangpanon, cukup lumayan melimpah terlebih saat ini sedang panen raya. Fenomena panen raya ini hanya terjadi setiap tiga tahun sekali, saat pohon cengkih berbunga secara maksimal.

“Kalau setiap tahun, ya ada sih panen hanya saja produksinya tak sebanyak panen raya, kalau setahun sekali produksinya paling 20 %, dari produksi panen raya,” jelasnya.

Dalam sebulan saja, Apud mengaku membeli cengkih dari petani sekitar 6-7 ton/bulan. Tiap tahun petani cengkih di sini akan panen biasa setiap bulan Juni- Agustus, selepas bulan itu cengkih habis dan tak produksi.

“Tahun ini, panen raya sedang ramai di sejumlah areal produksi cengkih khususnya di Desa Sindang Panon. Jika ini terjadi warga luar desa yang berkunjung kedesa ini, akan mencium aroma cengkih, saat melintas di kawasan penjemuran cengkih, yang nyaris terlihat di setiap halaman rumah rumah warga desa,” pungkasnya. (Gin)

Bagikan: